0


Oleh: SYAIKH IMADUDDIN BIN KATSIR ASY-SYAFI’I (WAFAT TAHUN 774)

Senandung Setan.
Beliau berkata: “Cukuplah Allah sebagai pelidungku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Penggunaan alat-alat musik dan mendengarkannya hukumnya haram. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadits nabi. diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Ghanim Al-Asy’ari.[63]“
Ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Abu Amir atau Abu Malik[64], demi Allah ia tidak berdusta kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda:
“Akan muncul di kalangan umatku nanti beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat musik. “
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq dengan shighah jazm (dengan kalimat yang mengesankan keshahihannya-pent).[65] Diriwayatkanjuga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya[66] , Abu Daud[67] dan Ibnu Majah[68] dalam Kitab Sunan dengan sanad yang shahih tanpa cacat. Dan telah dinyatakan shahih oleh beberapa orang ulama. Al-Ma’azif adalah alat musik, demikian dikatakan oleh Imam Abu Nashr Ismail bin Hammad Al-Jauhari[69] dalam Kamus Shihah-nya. Itulah makna yang dikenal dalam bahasa Arab. Kemudian telah dinukil ijma’ dari beberapa imam atas haramnya pertunjukan rebana dan seruling. Ada beberapa orang yang menyebutkan perbedaan pendapat yang tidak mu’tabar dalam masalah ini.
Adapun memisahkan antara tabuhan rebana dengan seruling, dalam masalah ini telah terjadi perbedaan pendapat yang sudah begitu masyhur dikalangan madzhab Syafi’i. Sementara imam-imam yang berjalan di atas madzhab ahli Iraq mengharamkannya. Mereka lebih dalam mengetahui pendapat madzhab daripada ahli Khurasan. Pendapat mereka itu didukung pula oleh hadits yang telah lewat. Tidak ada yang dikecualikan darinya selain rebana bagi para gadis kecil pada hari-hari `Ied, ketika menyambut orang besar yang baru tiba dan pada pesta-pesta pernikahan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits nabi. Hal itu telah dijelaskan dikesempatan lain. Dibolehkannya rebana pada waktu-waktu tertentu itu bukan berarti dibolehkan di setiap waktu. Sebagaimana halnya mengenakan sutera yang dibolehkan bagi penderita penyakit gatal (kusta) saat bersafar dan pada waktu berperang dalam kondisi darurat sementara tidak ada yang dapat dipakai kecuali sutera. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa sutera halal dipakai kapan saja.
Dan masih banyak lagi permasalahan yang serupa. Dalam hal ini sangat banyak sekali penukilan dari para Salaf, di antaranya adalah ucapan Abdullah bin Mas’ud , cukuplah bagi kita kedalaman fiqih dan ilmu beliau, amal serta nasihat beliau. Beliau berkata: “Nyanyian dapat menumbuhkan benih kemunafikan sebagaimana musim semi menumbuh-kan tanam-tanaman.”
Ucapan itu telah dinukil secara shahih dari beliau. Sebagian orang ada yang menisbatkan ucapan tersebut kepada Rasulullah, namun yang benar adalah mauquf dari ucapan Abdullah bin Mas’ud Berkenaan dengan tirman Allah :
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Luqman: 6)
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Demi Allah, maksudnya adalah nyanyian.[70]
Diriwayatkan juga oleh Imam At-Tirmidzi[71] dan imam lainnya sebuah hadits yang menyebutkan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan para biduanita dan penegasan bahwa uang hasil penjualan mereka haram hukumnya (tidak halal). Sekiranya kita sebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang diriwayatkan dalam masalah ini tentu buku ini tidak akan dapat menampungnya. Kami telah menulis buku tersendiri berkenaan dengan masalah ini.
Adapun menjadikannya sebagai alat mendekatkan did kepada Allah dan sebagai ajaran agama yang dijalankan untuk meraih pahala, maka itu adalah bid’ah yang sangat keji, tidak ada seorang nabipun yang mengatakan demikian. Dan tidak pernah sama sekali diturunkan dalam kitab-kitab suci dari langit. Bahkan hal itu sangat mirip dengan orang-orang yang diceritakan Allah:
“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau.” (Al-An’ am: 70)
Dan Allah berfirman:
“Ibadah mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafrran mu itu” (Al-Anfal: 35)
Yaitu tepuk tangan dan siulan. Jelas saja rebana dan seruling lebih dahsyat lagi. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim[72] dalam Shahih-nya disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
“Lonceng itu adalah seruling setan.”[73]
Jika lonceng saja sudah dikatakan demikian bagaimana pula dengan rebana yang berkerincing dan seruling yang berbagai macam bentuk dan bunyi. Oleh sebab itu Abu Bakar Ash-Shiddiq membentak dua putri kecil yang menabuh rebana di dekat ‘Asiyah pada hari `Ied. la berkata: “Layakkah mazmur[74] (nyanyian) setan ada dalam rumah Rasulullah!? Rasulullah berkata kepadanya:
“Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar, sebab bagi setiap umat ada hari besarnya, dan hari ini adalah hari besar kita.”[75]
Beliau menyetujui ucapan Abu Bakar bahwa tabuhan rebana itu adalah nyanyian setan, namun beliau mengecualikannya pada hari ‘Ied bagi anak-anak gadis tersebut untuk menunjukkan kegembiraan dan keceriaan pada hari itu. Sebagaimana beliau juga menyetujui kaum Habasyah yang bermain tombak di dalam masjid pada hari `Ied. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa bila hal itu mereka lakukan setiap waktu Rasulullah pasti menyetujuinya!
Maksudnya, menjadikan nyanyian dan musik yang diharamkan itu sebagai ketaatan merupakan kemungkaran yang sangat keji dan bid’ah yang sangat besar. Oleh sebab itulah, ketika sebagian ahli tasawuf setelah kurun ketiga Hijriyah melakukannya, lalu mereka mendapatkan al-wajd dan cita rasa yang tinggi saat mendengarkan nyanyian tersebut dan tidak mengetahui kerusakan yang ditimbulkannya dan akibat jelek yang dihasilkannya, maka para ulama mengingkari mereka dengan keras. Sampai-sampai Imam Asy-Syafi’i berkata: “Di Iraq saya mendapati sesuatu yang disebut taghbir yang diciptakan oleh kaum zindiq, yang dilakukan untuk menghalangi orang dari Al-Qur’an.”
Itulah pandangan mereka tentang taghbir. Taghbir itu sendiri adalah tabuhan dengan menggunakan tongkat atau stik pada kulit yang telah dikeringkan (gendang) dan menyenandungkan syair-syair religi yang menyentuh hati dan menggerakkan perasaan. Namun demikian para ulama itu tetap menyebut mereka kaum zindiq. Bagaimana pula bila para ulama melihat bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang, seperti mendengarkan nyanyian, menari dengan iringan rebana dan seruling dihadiri pula oleh para amrad dan kaum wanita. Lalu mereka menganggap bahwa dengan keadaan seperti itu mereka telah mencapai hakikat ilahiyah dan ma’rifat ruhaniyah. Di antara mereka ada yang berkata: “Barangsiapa turut menari maka akan diampuni dosanya”, atau perkataan senada dengan itu. Ditambah lagi percampur-bauran dengan kaum wanita dan amrad, disertai dengan jeritan dan rintihan serta atraksi memunculkan daun udzun dan burung dan sejenisnya, yang pada umumnya hal itu hanyalah sulapan dan tipuan belaka. Dan hal itu mereka jadikan sebagai alat untuk mengambil harta manusia dengan cara yang batil. Disamping itu juga mengklaim bahwa mereka adalah wali-wali Allah, para perantara kepada Allah. Karena itulah mereka tergolong orang yang paling jauh dari kebenaran dan paling sesat dari jalan hidayah.
Para ulama tidaklah mengingkari adanya karamah para wali. Bahwasanya hal itu memang ada dan akan tetap ada. Jumlahnya tidaklah dapat dibatasi dan tidak bisa pula dihitung saking banyaknya. Namun karamah itu hanyalah diberikan kepada orang yang berjalan di atas shirathal mustaqim dan di atas sunnah. Dan karamah itu hanya muncul pada diri seorang wali yang arif, alim tentang agama dan dibutuhkan oleh kaum muslimin, sebagaimana karamah-karamah yang diriwayatkan dari para Salafus Shalih . Boleh jadi terjadi hal-hal spektakuler dan menakjubkan atas seorang yang tidak mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun hal itu justru akan menjadi musibah dan bumerang bagi dirinya. Seperti halnya seorang alim yang tidak mendapat faidah apapun dari ilmunya. Yunus bin Abdul A’laa Ash-Shadafi[76] berkata: “Saya pernah berkata kepada Imam Asy-Syafi’i: “Sahabat kami, yakni Al-Laits bin Sa’ad[77], pernah berkata: “Jika kalian melihat seorang lelaki berjalan di atas air janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Imam Asy-Syafi’i berkata: “Tidak itu saja, semoga Allah merahmati beliau, bahkan jika kalian melihat seorang lelaki berjalan di atas bara api atau melayang di udara maka janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Itulah pernyataan para ulama rahimahumullah berkenaan dengan masalah ini. Allah telah berfirman:
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Inti seluruh persoalan ini adalah mengikuti syariat nabi dalam perkataan, perbuatan dan niat. Apabila shahih bahwa beliau telah mengucapkannya, atau melakukannya maka itulah kebenaran yang tidak boleh menyimpang darinya dan tidak ada kebenaran selainnya. Dan apa saja yang tidak beliau ucapkan atau tidak beliau lakukan (dalam masalah agama) maka itulah bid’ah yang dikatakan oleh Rasulullah :
“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dun sunnah Khulafa Ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Peganglah ia erat-erat. Jauhilah segala perkara yang diada-adakan, sebab setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah pasti sesat”[78]
Dalam lafal lain beliau menyatakan:
“Setiap kesesatan tempatnya di dalam Neraka”
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:
“Setiap amalan (dalam urusan agama) yang tidak ada keterangannya dari kami maka amalan itu tertolak”.[79]
Diriwayatkan juga bahwa beliau bersabda:
“Tidak aku tinggalkan satupun perkara yang mendekatkan kalian ke Surga kecuali aku telah memerintahkan kalian untuk mengerjakannya. Dan tidak aku tinggalkan satupun perkara yang menjauhkan kalian dari Neraka kecuali aku telah menjelaskannya kepada kalian.”[80]
Rasulullah juga bersabda:
“Saya tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seterang siang, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali binasa”[81].
Allah berfirman:
“Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (An-Nuur: 54).
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nuur: 63)
Allah juga berfirman:
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imran: 31)
Ayat-ayat dan hadits-hadits berkenaan dengan masalah ini sangat banyak sekali. Maksudnya adalah penegasan bahwa Rasulullah dan juga sahabat-sahabat beliau tidak pernah mendengarkan nyanyian-nyanyian bid’ah seperti itu. Akan tetapi mereka khusyu’ menyimak Al-Qur’an, mentadabburi ayat-ayatnya, dan menyelami maknanya yang dalam, sebagaimana disebutkan Allah dalam kitabNya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka avat-ayatNya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal: 2)
Dan juga dalam firman Allah
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaltu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar: 23)
Dan juga dalam firmanNya:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)
Dan juga dalam firmanNya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kira-nya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’: 82)
Allah juga berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad: 24)
Seorang sahabat nabi berkata: “Tidaklah seseorang itu ditanya tentang dirinya kecuali sikapnya terhadap Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an berarti ia mencintai Allah. Jika ia membenci Al-Qur’an berarti ia membenci Allah.”[82]
Ucapan tersebut merupakan singgungan bagi orang yang menyadari dirinya. Barangsiapa yang tergerak bilamana mendengar bait syair dan tidak merasa tergugah bilamana mendengarkan untaian ayat-ayat Al-Qur’an, meraung dan menangis bilamana mendengar suara yang merdu sementara tidak peduli tatkala mendengar janji Allah dan ancamanNya, jika ia memiliki karakter seperti itu berarti ia tidak berada di atas jalan yang benar. Bahkan jika tidak segera bertaubat, ia tergolong orang yang dipanggil dengan hina pada Hari Kiamat nanti, wallahu a’lam.
Ditulis oleh: Ismail bin Katsir Asy-Syafi’i
Sumber :Noktah-Noktah Hitam Senandung Setan’ Terjemah Kasyful Ghithaa’ ‘An Hukmi Sama’il Ghinaa’ Karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah; Halaman 40-49.
[63]Beliau adalah Abdurrahman bin Ghanim Al-Asy’ari, masih diperdebatkan statusnya sebagai sahabat nabi, lihat Ma’rifatus Tsiqat karangan A-’Ijli (II/85) dan SiyarA’lamun Nubala’(IV/45) dan Taqrib At-Tahdzib (I/494).

[64] Beliau adalah Abu Amir Al-Asy’ari, seorang sahabat, namanya adalah Abdullah, ada yang mengatakan Ubeid bin Hani’ atau bin Wahab. Beliau hidup hingga masa kekhalifahan Abdul Malik. Lihat Taqrib At-Tahdzib (II/443) dan Tahdzib At-Tahdirb(XII/145).
[65] Shahih Al-Bukhari (no.5590).
[66] Musnad Imam Ahmad (V/342).
[67] Sunan AbuDaud(no. 3688). Abu Daud bernama Sulaiman bin Al-Asy’ats bin lshaq AI-Azdi As-Sijistani, tsiqah hafizh, seorang penuiis kitab Sunan dan lainnya, termasuk tokoh ulama besar, wafat pada tahun 275 H. Silakan that Siyar A’lamun Nubala’(XIII/203) dan Tahdzib At-tahdzib (IV/169).
[68] Sunan Ibnu Majah (no. 4036), Ibnu Majah bernama Muhammad bin Yazid Ar-Raba’i AI-Qazwiini Abu Abdullah, seorang penulis kitab Sunan, beliau juga menulis kitab Tafsir dan Tarikh. Wafat pada tahun 273 H. Silakan lihat Siyar A’lamun Nubala’(XIII/277) dan Tahdzib At-tahdzib (II/220).
[69] Beliau adalah Ismail bin Hammad Al-Jauhari Abu Nashr, berasal dari daerah Farab, salah satu daerah di Turki. Silakan lihat An-Nujum Az-Zahirah (IV/207), Lisanul Mizan (I/400) dan Sryar A’lamun Nubala’(XVII/80)
[70] Silakan lihat Sunanul Kubra karangan Al-Baihaqi (X/223) dan Tafsir Al-Qurthubi (VIII/5234).
[71] Beliau adalah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Adh-Dhahhak As-Sulami At-Tirmidzi Abu Isa, seorang penulis kitab Jami’-=atau disebut juga Sunan, seorang tsiqah dan hafizh. Wafat pada tahun 279 H. Silakan lihat SiyarA’lamun Nubala’(XIII/270) dan Syadzaratudz Dzahab(II/174).
[72] Nama lengkap beliau adalah Muslim bin AI-Hajjaj bin Muslim AI-Qusyeiri An-Naisaaburi seorang tsiqah lagi hafizh, seorang imam dan penulis terkenal serta alim dalam bidang fiqih. Wafat pada tahun 257 H, silakan lihat Siyar A’lamun Nubala’(X11/557) dan Tahzdib At-tahdzib(11/245).
[73] Shahih Muslim (no. 2114) dengan lafal: “Lonceng merupakan seruling bagi setan.”. Abu Daud dalam Sunannya (no.2556), Ahmad dalam Musnad-nya (I1/366) dan (1I/372). Lihat juga Shahih Jami’ Ash-Shaghir (III/83).
[74] Mazmur artinya nyanyian. Adapun mizmar adalah suara lirih. Az-Zamir artinya suara merdu. Istilah ini digunakan juga untuk ghina’(nyanyian). Lihat Ighatsatul Lahfan karangan Ibnul Qayyim (hal. 199).
[75] HR. AI-Bukhari dalam kitab Ash-Shahih (no. 949 dan 952) dan Muslim dalam Shahih-nya (no.892), silakan lihat komentar tentang hadits ini dalam catatan kaki nomor 222.
[76] Beliau adalah Yunus bin Abdul A’laa Ash-Shadafi Abu Musa AI-Mishri, seorang tsiqah. Silakan lihat Tahdzib At-Tahdzib (XI/440), Taqrib At-Tahdzib (II/385), Al-Jarh wat Ta’dil (IX/243), Wafayaatil A’yan (VII/249) dan Al-Ansab(VIII/288).
[77] Beliau adalah Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman AI-Fahmi Abul Harits AI-Mishri, seorang tsiqah, faqih dan imam yang sangat terkenal. Silakan lihat Tarikh karangan Ibnu Ma’in (II/501) dan Siyar A’lamun Nubala’ (VIII/122).
[78] HR. Abu Daud (4607), At-Tirmidzi dalam Jami’-nya (2676), ia berkata: “Hasan shahih“, Ahmad dalam Musnad-nya (IV/126-127), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (42) dan telah dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam shahih Jami’At-Tirmrdzi dan Shahih Sunam Ibnu Majah.
[79] HR. AI-Bukhari (2647), Muslim (1718) dalam shahih mereka berdua dengan lafal: “Barangsiapa mengada-adakan amalan dalam agama kami ini yang bukan termasuk daripadanya maka amalan itu tertolak.” Diriwayatkan juga oleh Muslim (1718) dengan lafal: “Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada keterangannya dari kami..” berikut pembaca akan dapat membaca ulasan Ibnul qayyim tentang hadits tersebut.
[80] HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya (20100) dari Ma’mar dari Imran, dan Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (II/155/1647) dari hadits Abu Dzar, AI-Haitsami berkata dalam Al-Mujamma’, ‘Perawi riwayat Ath-Thabrani semuanya tsiqah dan dipakai dalam kitab Shahih kecuali Muhammad bin Abdullah bin Yazid AI-Muqri’, dia tsiqah tapi tidak dipakai dalam kitab Shahih’. Lihat Al-Mujamma’(VII I/264).
[81] HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (43) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah (42) dan diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak(I/96) dan Ahmad dalam Musnad(IV/126).
[82] Sahabat nabi yang dimaksud di sini adalah Abdullah bin Mas’ud, silakan lihat Ihya’ ‘Ulumuddin (I/273).

SELENGKAPNYA DI SINI

Dikirim pada 22 Februari 2012 di Al Islam
Dikirim pada 08 Februari 2012 di Al Islam



Oleh: Syaikh Abû Mus‘ab Al-Zarqawi berkata:
“Segala puji bagi Alloh; kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri serta keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada seorangpun mampu menyesatkannya, dan siapa yang Alloh sesatkan maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Alloh; satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya; beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasehati umat, serta meninggalkan mereka di atas mahajjatul baidho’ (keterangan yang sangat jelas), malamnya seperti siang, tidak ada yang menyimpang dari keterangan tersebut kecuali orang yang binasa.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” [1]
“Hai manusia, bertakwalah kepada robb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa dan menciptakan darinya pasangannya serta mengeluarkan dari keduanya keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kalian kepada Alloh yang (dengan menyebut nama-Nya) kalian saling meminta serta (peliharalah) tali silaturrohmi. Sesungguhnya Alloh Mahamengawasi kalian.” [2]
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang lurus. Niscaya Alloh akan memperbaiki amal kalian serta mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan rosul-Nya maka sungguh ia telah meraih kemenangan yang besar.” [3]
Tsumma Amma ba‘du…
Sejarah akan terus terulang:
Sejarah kembali terulang, jalan cerita sejarah dari zaman ke zaman tidak pernah berubah… manusia dan pemerannya boleh berubah, peralatan-peralatan boleh berkembang pesat; akan tetapi pentas sejarah tetaplah baku; kisah permusuhan hanya satu, yaitu kebenaran melawan kebatilan, Islam memerangi kekafiran, kejahilaya-han, dan kemunafikan yang terselu-bung. Adapun orang-orang lemah dan benyali rendah, mereka memegang tongkat pada bagian tengahnya; satu sisi ia menyatakan bergabung dengan umatnya, tapi di sisi lain ia lebih mengedepankan kepentingan dunia-nya sembari menunggu kabut tersingkap dan peperangan berakhir; dengan maksud ingin bergabung dengan kelompok yang kuat dan menumpang kapal fihak yang menang, sungguh teramat jelek apa yang diperbuat orang-orang seperti ini.
Tapi mereka dihentikan oleh orang-orang robbaniyyuun, yang mengangkat bendera di zaman kerusakan, mengangkat kepala di zaman kehinaan, tekat mereka mengarungi angkasa, pergi menuju Alloh, Dzat Yang Maha melihat lagi Maha mendengar, meneladani Sang pembawa peringatan dan kabar gembira, Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam, mereka orang-orang asing yang wajahnya hangus terbakar angin keterasingan, kaki mereka yang tanpa alas kaki meneteskan darah di sahara yang berkobar oleh api permusuhan, tidak ada pintu yang mau menerima mereka sehingga mereka mengetuk pintu langit, lalu dibukalah pintu tersebut untuk mereka, langsung dari tengah-tengah surga untuk menghidupkan hati, tersirat kegembiraan iman dalam diri mereka, sehingga tidak ada seorangpun dari mereka yang mundur, karena mereka marah demi agamanya, walaupun seluruh dunia bersatu-padu membidiknya.

[1] QS. Ali ‘Imron: 102
[2] QS. An-Nisa’: 1
[3] QS. Al-Ahzab: 70-71


Penerjemah:
Ahmad Ilham Al-Kandari
Publikasi:
AL-QAEDOON GROUP

Terkait:
Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3


Dikirim pada 20 Januari 2012 di Al Islam


Nomor Soal: 606
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Apa hukum memajang Photo di forum-forum internet?
Apakah ada pengecualian bagi Photo dari gambar-gambar atau lukisan-lukisan makhluk bernyawa? Atau gambar-gambar sebagai alat pengenal bagi sebagian forum internet?
Saya adalah direktur forum internet wanita dan saya ingin fatwa untuk menghindari hal-hal yang diharamkan terutama berkaitan dengan keberadaan gambar di forum internet itu dengan segala macamnya…
Jazakumullahul Jannah.
Penanya: Ummul Walid
Allajnah Asy Syar’iyyah di Al Minbar menjawab:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh
Semoga Allah memberikan barokah kepadamu dan menambahkan kepadamu semangat pencarian (ilmu) dan sikap wara’.
Saudariku penanya:
Pertama: Telah datang nash-nash qath’iy perihal pengharaman tashwir (menggambar): seperti hadits Aisyah radliyallahu ‘anha dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللهِ
“Manusia yang paling berat adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah” (Muttafaq ‘alaih)
Al Bukhari dan Muslim serta para pemilik As Sunan meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ
“Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini diadzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.”
Dari Abu Zur’ah berkata: Saya bersama Abu Hurairah masuk ke rumah Marwan Ibnul Hakam, maka ia melihat di dalamnya lukisan-lukisan sedang ia itu dibangun, maka ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Allah ‘azza wa jalla berkata:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي، فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ فَلْيَخْلُقُوا شَعِيرَةً
“Dan siapakah orang yang lebih zalim daripada orang yang melakukan penciptaan seperti ciptaan-Ku, maka hendaklah mereka menciptakan sebutir jagung, atau hendaklah mereka menciptakan suatu biji, atau hendaklah mereka menciptakan sebutir gandum” (Muttafaq ‘alaih)
Dan hadits-hadits lainnya yang banyak lagi shahih dalam bab ini.
Kedua: Diharamkan dari gambar-gambar itu hal-hal berikut ini:
Patung-patung tiga dimensi bila ia makhluk yang bernyawa; yaitu manusia atau hewan, dan telah ada di dalam hadits:
إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ، وَلَا صُورَةٌ
“Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung” (HR Muslim)
Lukisan-lukisan tangan bagi makhluk yang bernyawa, dan itu berdasarkan nash-nash yang lalu. Al Alusiy rahimahullah berkata: “Dan bagi kami tidak ada perbedaan antara gambar yang memiliki bayangan (tiga dimensi) ataupun tidak memiliki bayangan, seperti gambar kuda yang dipahat di karton atau di tembok umpamanya, dan di dalam syari’at kita telah ada nash-nash yang berisi ancaman keras terhdap orang-orang yang melukis.” Selesai (Ruhul Ma’aniy 22/119)
Ketiga: Dibolehkan dari gambar-gambar itu hal-hal berikut ini:
Setiap gambar makhluk tak bernyawa, seperti menggambar benda-benda padat, gunung, pepohonan, planet, bintang, laut dan seterusnya. Dari Said ibnu Abil Hasan berkata: Datang seorang pria kepada ibnu ‘Abbas, terus berkata: Sesungguhnya saya adalah orang yang melukis gambar-gambar ini maka berilah saya fatwa dalam hal ini? Maka ibnu ‘Abbas berkata kepadanya: Mendekatlah kepada saya, maka ia mendekat kepadanya, terus ibnu ‘Abbas berkata: Mendekatlah kepada saya, maka ia mendekat sampai meletakkan tangannya di atas kepalanya, ia berkata: Saya memberitahumu dengan apa yang telah saya dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ، بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا، نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ
“Setiap orang yang menggambar itu di neraka seraya dijadikan baginya dengan setiap gambar yang telah dia gambar itu suatu jiwa terus jiwa itu mengadzabnya di neraka Jahannam,” (HR. Muslim: 2110)
Dan ia (ibnu ‘Abbas) berkata:
إِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلًا، فَاصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ
“Bila kamu mesti melakukan juga maka buatlah (lukisan) pohon dan apa yang tidak bernyawa”
Dan dalam satu riwayat:
فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ، كُلِّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ
“Maka lukislah pohon-pohon ini, segala sesuatu yang tidak ada ruhnya” (Muttafaq ‘alaih)
Setiap gambar yang tidak bersambung bentuk (tubuh) nya. Dari Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada saya sedangkan saya menutupi diri di balik tirai yang ada gambarnya, maka berubahlah wajahnya terus meraih tirai itu dan mencopotnya dengan keras kemudian berkata:ya
إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللهِ قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَطَّعْته، فَجَعَلْت مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ
“Sesungguhnya di antara manusia yang paling berat adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupai penciptaan Allah” Aisyah berkata: Maka saya memotongnya terus membuat dua bantal darinya, dan kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbantal dengan keduanya.” (HR Muslim 2107)
Al Imam Ibnul ‘Arabi Al Maliki rahimahullah berkata: “Kemudian dengan memotongnya dan menjadikannya dua bantal berubahlah gambar itu dan keluar dari bentuknya, maka sesungguhnya kebolehan hal itu bila gambar tersebut tidak bersambung bentuknya di dalamnya, namun bila ia itu bersambung bentuknya maka tidak boleh.” Selesai (Ahkamul Qur’an Juz Ketiga)
Mainan anak perempuan. Dari Aisyah radliyallahu ‘anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سَبْعِ سِنِينَ، وَزُفَّتْ إِلَيْهِ وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ، وَلُعَبُهَا مَعَهَا، وَمَاتَ عَنْهَا وَهِيَ بِنْتُ ثَمَانَ عَشْرَةَ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya sedang ia anak usia tujuh tahun, dan disandingkan kepadanya saat ia berumur sembilan tahun sedangkan mainannya bersamanya, dan beliau meninggal dunia saat ia berumur 18 tahun.” (HR Muslim no. 1422)
Dan dari Aisyah bahwa ia berkata:
كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي
“Dahulu saya bermain boneka-bonekaan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dahulu saya punya teman-teman yang bermain bersama saya, dan adalah bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk maka mereka bersembunyi darinya, maka beliau pun memasukan mereka kepada saya terus mereka bermain bersama saya.” (HR Muslim)
Al Hafidh ibnu Hajar rahimahullah berkata setelah menuturkan perselisihan ulama perihal menggambar dan macam-macamnya: “Dan dikecualikan dari hal itu mainan anak-anak perempuan.” (Fathul Bari)
Photo. Dan itu dikarenakan tidak adanya ‘illat (alasan hukum) pengharaman di dalamnya, di mana illat (alasan hukum) pengharaman adalah sebagaimana ada di dalam hadits-hadits itu (… orang-orang yang menandingi penciptaan Allah), sedangkan macam gambar ini (Photo), meskipun dinamakan tashwir (gambar) akan tetapi pada hakikatnya ia adalah pembiasan (pantulan) gambar apa yang telah Allah ciptakan -seperti cermin- dan penahanannya, di mana di dalamnya tidak ada penandingan (penyerupaan) terhadap ciptaan Allah, sedangkan kaidah itu menegaskan bahwa “yang jadi tolak ukur adalah hakikat dan makna, bukan lafadh dan bangunan.”
Dan sangat menakjubkan saya suatu permisalan yang dicontohkan syaikh kami Al Ushuli Abu Qatadah Al Filisthiniy hafidhahullah untuk mendekatkan (pemahaman) hakikat masalah ini, ringkasnya: “Seandainya si Zaid menulis surat dengan tulisan tangannya, terus di memperbanyaknya dengan alat Photo copy, maka apa dikatakan: bahwa ini tulisan alat Photo copy?! Atau dikatakan: dia adalah dia yaitu tulisan si Zaid?!” di mana di dalamnya tidak ada penandingan (penyerupaan) terhadap tulisan si Zaid, akan tetapi ia adalah copyian darinya, maka amatilah!
Syaikh As Sayis berkata: “Mungkin engkau ingin mengetahui hukum apa yang dinamakan dengan Photo, maka kami katakan: Engkau bisa mengatakan bahwa (statusnya) sama dengan hukum raqm (cap) di baju, dan engkau telah mengetahui pengecualiannya secara nash. Dan engkau bisa juga mengatakan: Bahwa ini (Photo) bukanlah pembuatan gambar (lukisan), akan tetapi ia adalah penahanan bagi gambar, tidak ada bedanya dengan gambar dicermin, di mana engkau tidak mungkin mengatakan bahwa apa yang ada di cermin itu adalah gambar dan bahwa seseorang telah menggambarnya. Dan yang diperbuat oleh alat Photo itu adalah gambar apa yang ada di cermin, namun kelebihannya bahwa kamera Photo itu menahan bayangan yang ada padanya, sedangkan cermin tidak begitu, kemudian klise Photo itu diletakkan dalam obat afdruk kemudian munculnya darinya banyak gambar, dan ini pada hakikatnya bukanlah tashwir (pelukisan), namun ia adalah penampakan dan pelanggengan bagi gambar-gambar yang ada dan penahanannya dari kelenyapan. Sesungguhnya orang-orang mengatakan: Bahwa gambar (Photo) segala sesuatu itu adalah ada namun ia bisa berpindah dengan peran matahari dan cahaya selagi tidak ada penghalang yang menghalanginya dari keperpindahan itu, sedangkan obat afdruk (Photo emulson/zat asam khusus) adalah penghalang itu. Dan selagi dalam syari’at itu terdapat kelapangan bagi penghalalan gambar-gambar ini -seperti pengecualian cap di dalam baju- maka tidak ada alasan untuk mengharamkan (Photo ini)…” selesai (Ayatul Ahkam Milik As Sayis 4/61)
Keempat: Meletakkan Photo di atas halaman-halaman forum, adalah ada dua hal yang saling tarik menarik -menurut saya-:
Hal pertama: Ia diqiyashkan kepada suatu yang merupakan raqm (cap atau hiasan gambar yang sedikit lagi kecil) di pakaian, maka ini boleh. Dari Abu Thalhah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أَنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ
“Sesungguhnya Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar.” (HR Bukhari no. 3224)
Berkata Busr: Kemudian Zaid menderita sakit setelah itu maka kami pun menjenguknya, ternyata di pintunya ada tirai yang ada gambarnya, ia berkata: Maka saya berkata kepada Ubaidullah Al Khaulaniy anak tiri Maimunah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَلَمْ يُخْبِرْنَا زَيْدٌ عَنِ الصُّوَرِ يَوْمَ الأَوَّلِ؟ فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ: أَلَمْ تَسْمَعْهُ حِينَ قَالَ: «إِلَّا رَقْمًا فِي ثَوْبٍ»
“Bukankah Zaid telah mengabarkan kepada kita tentang gambar di hari pertama? Maka Ubaidullah berkata: Apakah kamu tidak mendengarnya saat ia mengatakan: “Kecuali raqm di pakaian.” (Muttafaq ‘alaih)
Hal Kedua: Ia tergolong menggantungkan gambar yang memberikan rasa pengagungan dan ghuluw, sedang ini adalah haram, berdasarkan hadits Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: Adalah beliau dahulu memiliki tirai yang ada gambar burungnya, dan adalah orang yang masuk bila masuk maka ia menghadapnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
حَوِّلِي عَنيِّ هَذَا فَإِنِّي كُلَّمَا رَأَيْته ذَكَرْت الدُّنْيَا
“Singkirkanlah hal ini dariku, karena sesungguhnya aku setiap kali melihatnya maka aku teringat dunia” (HR Muslim)
Oleh sebab itu sesungguhnya hati-hati dari hal itu adalah lebih selamat, selagi itu bisa… dan Sufyan telah berkata perihal harta yang tersamar (syubhat): “Hal itu tidak saya sukai dan meninggalkannya lebih saya sukai.” (Jami’ul Ulum Wal Hikam hal. 94)

Dikirim pada 16 Januari 2012 di Al Islam
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Secara formal adalah seorang perawat, dinyatakan mendapatkan ijazah DIII Keperawatan dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang Lampung pada tahun 2011 dan sekarang masih menempuh jenjang S1 Keperawatan di sebuah univ swasta di Jogjakarta. More About me

BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 267.663 kali


connect with ABATASA