0


Nomor Soal 2693
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Saya memohon kepada Allah ta’ala agar menjaga bagi kami ulama dan syaikh-syaikh kami dari segala keburukan…
Pertanyaan: Apa hukum chatting atau obrolan -dengan tulisan- antara wanita dengan laki-laki di internet dan saling surat menyurat di antara mereka? Wa Jazakumullahu Khairan
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Penanya: Abu Sidrah
Al Lajnah Asy Syar’iyyah di Al Mimbar menjawab:
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Sesungguhnya pada dasarnya pembicaraan laki-laki dengan wanita ajnabiyyah (yang asing) untuk keperluan itu adalah boleh dengan batasan-batasan syar’i bila aman dari fitnah, sedangkan fitnah pada para pemuda itu adalah lebih dahsyat dari selain mereka.
Allah ta’ala berfirman:
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” [Al Ahzab: 32]
Al Imam Ibnul ‘Arabiy rahimahullah berkata: “Allah ta’ala memerintahkan mereka (para wanita) agar ucapan mereka itu biasa saja dan percakapannya tegas, dan tidak dengan cara yang menimbulkan hubungan di dalam hati dengan sebab apa yang nampak padanya berupa intonasi lembut yang membangkitkan keinginan orang yang mendengar. Dan Allah mengharuskan atas mereka agar perkataan mereka itu ucapan yang baik… Ada yang mengatakan: Ma’ruf (ucapan yang baik) itu adalah pelan, karena sesungguhnya wanita itu diperintahkan untuk merendahkan (suara) ucapan. Dan ada yang mengatakan: Yang dimaksud dengan ma’ruf itu adalah apa yang kembali kepada syar’iy berupa menyampaikan apa yang diperintahkan untuk menyampaikannya, atau berupa keperluan yang mesti bagi manusia darinya.” Selesai (Ahkamul Qur’an 3/460)
Al Imam Al Qurthubiy rahimahullah berkata: “Dan adapun mengucapkan salam kepada wanita, maka ia itu boleh kecuali kepada para pemudi dari mereka karena khawatir fitnah dari penyapaan mereka dengan adanya bisikan syaithan atau pengkhianatan mata. Dan adapun wanita-wanita tua dan renta maka (ucapan salam itu) baik karena aman (fitnah) dalam apa yang telah kami utarakan; ini adalah pendapat ‘Atha dan Qatadah, dan ia itu dianut oleh Malik dan sejumlah ulama. Dan ulama-ulama Kufah melarangnya bila di antara mereka tidak ada wanita yang merupakan mahramnya, dan mereka berkata: Tatkala gugur dari para wanita adzan, iqamah, dan penjaharan bacaan dalam shalat maka gugur juga dari mereka penjawaban salam sehingga tidak (boleh) mengucapkan salam kepada mereka. Dan pendapat yang shahih adalah yang pertama berdasarkan apa yang diriwayatkan Al Bukhari dari Sahl ibnu Sa’ad berkata:
“Adalah kami dahulu sangat bahagia dengan hari Jum’at.” Saya berkata: Memang kenapa? Ia berkata: Adalah dahulu kami memiliki seorang wanita tua yang mengirim (orang) ke Budla’ah -Ibnu Salamah berkata: Kebun kurma di Madinah- terus ia mengambil ushul silq (semacam sayuran) kemudian ia masukan ke dalam panci dan ia menggiling biji-biji gandum, kemudian bila kami selesai melaksanakan shalat Jum’at maka kami pulang dan mengucapkan salam kepadanya, kemudian ia menghidangkannya kepada kami, maka kami bahagia karena hal itu, dan kami tidak pernah tidur siang dan makan siang kecuali ba’da Jum’at.“ Selesai.
Maka sekedar pengucapan salam pemuda kepada pemudi adalah dilarang secara syari’at sebagai bentuk “saddudzdzarai” (penutupan pintu yang menuju kepada hal yang haram) maka bagaimana halnya dengan percakapannya dengan pemudi itu berjam-jam?! Sungguh Allah ta’ala telah berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا
“Dan janganlah kalian mendekati zina.” [Al Isra: 32]
Dimana Allah ta’ala telah melarang dari segala yang mendekati zina, dan di antara hal itu adalah apa yang ada dalam ucapan si penanya yang ia namakan “chatting atau obrolan -dengan tulisan- antara wanita dengan laki-laki di internet dan saling surat menyurat di antara mereka.” Selesai
Dan Allah ta’ala berfirman:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” [Al Baqarah: 208]
Dan tidak diragukan lagi bahwa perbuatan yang ditanyakan itu adalah termasuk mengikuti langkah-langkah syaithan, yang biasanya berakhir dengan berlumuran dengan berbagai maksiat. Wallahu musta’an..
Pandangan terus senyuman kemudian ucapan salam
Terus obrolan kemudian janjian dan akhirnya perjumpaan!
Di samping itu sesungguhnya obrolan pria kepada wanita lewat sarana-sarana modern ini; di dalamnya terdapat semacam khalwat dengan surat menyurat khusus antara si pria dengan wanita. Dan Al Bukhari telah membuat bab dalam shahihnya: “Bab jangan sekali-kali pria berkhalwat dengan seorang wanita kecuali mahramnya…”, dan menuturkan didalamnya riwayat dari ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Jangan sekali-kali seorang pria berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.”
Dan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata:
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Tidaklah sekali-kali seorang pria berkhalwat dengan seorang wanita melainkan yang ketiganya adalah syaithan”. (HR Tirmidzi no. 1171)
Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Dan adapun bila pria ajnabi (asing) berkhalwat dengan wanita ajnabiyyah tanpa ada yang ketiga, maka ia haram dengan kesepakatan ulama, dan begitu juga bila bersama mereka berdua itu ada orang yang tidak dirasa malu darinya karena ia masih kecil maka khalwat yang haram itu tidak lenyap dengannya.” Selesai.
Al Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata: “Dan khalwat dengan wanita ajnabiyyah itu diijmakan keharamannya, sebagaimana hal itu dihikayatkan oleh Al Hafidh dalam “Al Fath”, sedangkan alasan pengharaman adalah apa yang ada di dalam hadits yaitu keberadaan syaithan sebagai yang ketiganya, dan kehadirannya itu menjerumuskan keduanya dalam maksiat. Dan adapun bersama keberadaan mahram, maka khalwat dengan wanita ajnabiyyah itu boleh karena tercegah munculnya maksiat bersama kehadirannya.” Selesai (Nailul Authar hal 1249)
Dan atas dasar ini, maka apa yang disebut dengan chatting antara pria dan wanita adalah tidak boleh walaupun dalam rangka dakwah atau hal serupa itu -sebagaimana yang diklaim oleh sebagian pemuda-, karena tujuan itu tidak melegalkan segala cara. Sungguh Maimun ibnu Mahran rahimahullah telah berkata: “Jangan kamu masuk kepada perempuan walaupun kamu mengatakan: Saya mengajarinya Kitabullah.” Selesai (Hilyatul Auliya 4/85). Dan berkata Yunus ibnu ‘Ubaid rahimahullah: janganlah sekali-kali seorang di antara kalian berkhalwat bersama perempuan muda seraya ia membacakan Al-Qur’an kepadanya.” Selesai (Hilyatul Auliya 3/21).
Seyogyanya wanita itu belajar dari wanita pula dan berhubungan (komunikasi) dengan teman-teman sejenisnya dalam bab dakwah ilallah, di mana dalam hal itu terdapat kecukupan dari masuknya pria ke dalam pintu-pintu ini yang di dalamnya terdapat sikap mengikuti langkah-langkah syaithan…
Adapun pembatasan penanya terhadap perbuatan itu dengan “tulisan, tanpa bercakap-cakap dengan ucapan” maka tetap saja hukum tidak keluar dari lingkaran keharaman, dan itu dikarenakan qaidah fiqhiyyah di dalam hal seperti ini adalah: (Tulisan itu seperti ucapan). (lihat Syarhul Qawaid Al Fiqhiyyah milik syaikh Ahmad Az Zarqa hal 285). Wallahu a’alam.

Dijawab oleh anggota Allajnah Asy Syar’iyyah:
Syaikh Abu Humam Bakr Ibnu Abdil Aziz Al Atsariy
Penterjemah: Abu Sulaiman 28 Dzul Hijjah 1432 H


Dikirim pada 30 Desember 2011 di Al Islam


Selasa, 29 November 2011 06:43:07

(Arrahmah.com) – Baru-baru ini, dua video oleh Jamaah Al-Tawhid wal-Jihad, kelompok Filipina diposting di dalam forum Jihad al-Shumukh. Dalam video pertama yang berdurasi tiga menit, seorang pria yang mengenakan penutup wajah dan mengatakan dirinya Abu Jihad Al-Luzuni, menuduh AS menduduki Filipina, melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap Muslim. Ia melanjutkan bersumpah setia kepada pemimpin Al Qaeda, Syeikh Ayman az-Zawahiri dan kelompok afiliasi Al Qaeda lainnya.

Dalam rekaman kedua, Abu Abdallah Al-Faris Al-Mulatham menyeru Mujahidin di seluruh dunia untuk secepatnya memberikan bantuan kepada saudara Muslim di Fili[ina, yang ia klaim telah dibunuh dan dirampok oleh penjajah Amerika dan untuk membantu Mujahidin di sana dengan uang, bala bantuan, pengetahuan dan pelatihan.

Abu Abdallah juga bersumpah setia kepada pemimpin jihad di seluruh dunia, pertama dan terutama kepada pemimpin Imarah Islam Afghanistan, Mullah Muhammad Omar dan pemimpin Al Qaeda, Syeikh Ayman az-Zawahiri. Video ini berdurasi sekitar 11 menit, diproduksi oleh Al-Yarmouk Media.

Berikut ini adalah poin utama dari kedua video. Video tersebut dirilis sebelum kedatangan Menlu AS Hillary Clinton ke Filipina pada kunjungan resmi yang berlangsung selama beberapa hari :

Abu Jihad Al-Luzini dalam video yang diposting pada 7 November : “Tidak ada jalan untuk mengembalikan Khilafah Islam dan membebaskan tanah kami dari kafirin selain dari jalan Jihad dan pedang yang ditarik untuk jalan Allah”

Membaca tulisan dalam bahasa Arab di selembar kertas yang dipegangnya, Abu Jihad meminta semua ummat Islam dimanapun mereka berada untuk menyatukan upata untuk menjadikan firman Allah sebagai kata tertinggi, sampai kebenaran dan keadilan terungkap dan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melakukan ini adalah menerapkan syariah Allah. Dia menekankan bahwa ummat Muslim saat ini dalam keadaan terhina, di bawah kekuasaan musuh-musuh Islam dan bahwa Muslim harus bekerja sama untuk menyelamatkan ummat dari degradasi dan penindasan.

Berbicara atas nama mujahidin Filipina, Al-Luzuni menyatakan: “Kami, pemuda dari ummat, dari berbagai suku di kepulauan Filipina, cemas untuk menjawab panggilan ilahi ini … dalam rangka untuk menghapus kesedihan dan kemarahan dari hati orang yang memiliki kepercayaan (yaitu Muslim), dan untuk membela kehormatan saudara dan saudari kita yang tertindas, mereka yang tewas dan mereka yang diasingkan dari rumah mereka dan tanah mereka telah dicuri … Kami mendesak Anda untuk membantu kami dan memperlengkapi kami dengan cara jihad demi Allah … karena tidak ada cara untuk mengembalikan kekhalifahan Islam dan kemuliaan Islam, untuk mengusir musuh-musuh Islam, dan untuk membebaskan tanah kita dari sampah kafir lainnya daripada jalan jihad dan pedang terhunus demi Allah.”

Sedangkan Abu Abdullah memulai rekaman videonya dengan menekankan bahwa Filipina merupakan tanah Islam dari zaman dahulu kala, dan bahwa meskipun telah ditaklukkan oleh berbagai penjajah sepanjang sejarah, orang Muslim tidak pernah menyerah kepada mereka. Dia menuduh Amerika – yang telah “menduduki” Filipina selama lebih dari 100 tahun – menyiksa dan Muslim membunuh, dan mencuri tanah mereka serta air dan hingga “ke titik mengubah Muslim menjadi orang-orang termiskin (di Filipina)”. Dia menyeru pada ummat Islam untuk tidak berpangku tangan, tapi untuk bangkit dan membela agama mereka, hidup mereka, kehormatan mereka, dan harta benda mereka.

Abu Abdallah kemudian bersumpah setia kepada seluruh pemimpin Jihad global, mengatakan “Kami menyetakan kesetiaan kami kepada Allah, Rasul-Nya, orang-orang beriman dan imam mereka saat ini seperti Mullah Umar, Syeikh Ayman Az-Zawahiri, Abu Bakr al-Baghdadi al-Quraishi dan amir AQAP, AQIM Mujahidin Al Shabaab di Somalia dan front jihad lainnya”.

Dia mengatakan bahwa ummat Islam akan mengambil dunia ini ketika AS telah kehilangan kekuatan sebagai negara adidaya dunia sebagaimana dibukrikan dengan kekalahan yang mereka alami di Afghanistan. Dia juga menunjukkan keruntuhan ekonomi AS dan jatuhnya penguasa-penguasa dzolim negara-negara Arab, menambahkan bahwa penguasa Yaman dan Suriah dapat bernasib seperti Moammar Qaddafi.

Abu Abdallah menyimpulkan dengan menghimbau para Mujahidin di seluruh dunia untuk membantu saudara-saudara mereka di Filipina. “Kami sangat membutuhkan anda untuk mengirimkan kepada kami ahli dalam bahan peledak dan senjata manufaktur seperti saudara kami di Irak dan Afghanistan…atau memberikan kepada kami singa-singa (yaitu Mujahidin) untuk memberikan pelajaran menembak dan baik kami dan Anda akan mendapatkan tempat di dunia yang akan datang, insha Allah”. (haninmazaya/arrahmah.com)


Read more: http://arrahmah.com/read/2011/11/29/16590-jamaah-al-tawhid-wal-jihad-di-filipina-meminta-bantuan-mujahidin-dunia-untuk-membantu-jihad-di-filipina.html#ixzz1hi6Gpd44

Dikirim pada 27 Desember 2011 di Al Islam


Oleh: Adian Husaini
Saat menjadi wartawan Harian Berita Buana, tahun 1990, saya pernah ditugasi meliput satu seminar tentang demokrasi di salah satu hotel di Jakarta. Tema seminarnya tentang demokrasi dan agama-agama. Saat itu, banyak diskusi tentang demokrasi digelar. Seperti paham-paham lainnya, karena dianggap sebagai paham yang bersifat universal dan harus dipeluk oleh seluruh umat manusia, maka agama-agama juga diminta menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Para tokoh dari berbagai agama yang hadir dalam seminar itu kemudian didorong untuk memberikan legitimasi, bahwa paham demokrasi adalah sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
Salah satu buku yang diperbincangkan pada dekade 1990-an adalah The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, karya Samuel P. Huntington. (Tahun 1995, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Grafiti, dengan judul Gelombang Demokratisasi Ketiga). Huntington menyimpulkan dalam buku ini: ”Singkat kata, demokrasi hanya cocok bagi negara-negara Eropa Barat Laut dan barangkali negeri-negeri Eropa Tengah serta koloni-koloni penduduk yang berasal dari negara-negara itu.” (hal. 386). Tentang Islam, Huntington menyebutkan, bahwa ”doktrin Islam mengandung unsur-unsur yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan demokrasi.” (hal. 396). Bahkan, Huntington juga menegaskan: ”Budaya Islam dan Konfusius menghadapkan perkembangan demokrasi dengan penghalang yang tidak mudah teratasi.” (hal. 398).
Seolah-olah seperti terprovokasi oleh Huntington, banyak kalangan cendekiawan yang kemudian tersengat, lalu berteriak lantang bahwa ”Islam sesuai dengan demokrasi!” Hanya ada seorang cendekiawan dalam seminar itu yang memberikan kritik terhadap konsep demokrasi. Karena sudah menjadi tren global, maka banyak orang yang kemudian ikut-ikutan latah menyuarakan lagu wajib ”demokrasi”. Bahwa, seolah-olah, demokrasi adalah berkah yang harus dipeluk oleh setiap manusia. Hanya dengan demokrasilah, suatu bangsa akan menjadi bangsa besar. Bahkan, ada yang menjadikan demokrasi bukan sekedar mekanisme pemilihan kepemimpinan, tetapi sebagai tujuan dan jalan hidup itu sendiri. Pokoknya, harus demokrasi! Makmur atau sengsara, tidak penting!
Maka, sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, banyak kalangan kini berteriak dimana-mana, membanggakan diri, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi Muslim terbesar di dunia. Banyak cendekiawan juga yang senang jika dipuji-puji oleh para petinggi AS, bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia (setelah AS dan India). Saat berkunjung ke Indonesia, pada 18 Februari 2009, Menlu AS, Hillary Clinton menyatakan: ”Indonesia telah mengalami transformasi yang besar dalam sepuluh tahun terakhir. Beberapa hal yang saya catat adalah penghormatan atas HAM, demokratisasi, sukses mengakhiri konflik sektarian dan menjadi tempat yang aman,” kata Hillary.
Salah satu ciri manusia Indonesia, menurut budayawan Mochtar Lubis, adalah senang dengan takhayul dan mantra-mantra. Kata Mochtar, dalam bukunya, Manusia Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001): “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat baru, Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”
Ya, jika kita perhatikan, oleh banyak kalangan -bahkan oleh orang-orang yang disebut cendekiawan- demokrasi telah dijadikan mantra. Kata ini ditulis, dislogankan, dikampanyekan, dan diucapkan berulang-ulang tanpa kritis. Mereka tidak berpikir panjang, apa sebenarnya makna dan konsekuensi demokrasi. Padahal, negara-negara yang menggembar-gemborkan demokrasi pun -seperti AS- juga tidak mau menerapkan demokrasi sepenuhnya. Demokrasi hanya diterapkan jika mereka perlu, dan sesuai dengan kepentingan mereka.
Lihat saja, ketika Hamas menang Pemilu Palestina, maka AS pun menolak demokrasi, sebab hasilnya tidak sesuai dengan kemauan AS. PBB adalah contoh nyata tidak adanya demokrasi. Barat (AS dan sekutu-sekutunya) tidak percaya, bahwa umat manusia yang mayoritas dapat menghasilkan keputusan yang baik buat dunia internasional, jika bertentangan dengan kemauan mereka. Karena itu, sejak awal berdirinya PBB, 24 Oktober 1945, Barat memaksakan sistem “aristokratik”, dimana kekuasaan PBB diberikan kepada beberapa buah negara yang dikenal sebagai “The Big Five” (AS, Rusia, Perancis, Inggris, Cina). Kelima negara inilah yang mendapatkan hak istimewa berupa hak ‘Veto’ (dari bahasa Latin: veto, artinya: saya melarang). Lima negara ini merupakan anggota tetap dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB. Sisanya, 10 negara, dipilih setiap dua tahun oleh Majelis Umum PBB. Pasal 24 Piagam PBB menyebutkan, bahwa Dewan ini mempunyai tugas yang sangat vital yaitu “bertanggung jawab untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional”. Jika satu resolusi diveto oleh salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB, maka resolusi itu tidak dapat diterapkan. Dalam pasal 29 Piagam PBB dikatakan: “Decision of the Security Council on all other matters shall be made by an affirmative vote of nine members including the concurring votes of the permanent members.”

BACA SELENGKAPNYA>>>

Dikirim pada 26 Desember 2011 di Al Islam
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Secara formal adalah seorang perawat, dinyatakan mendapatkan ijazah DIII Keperawatan dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang Lampung pada tahun 2011 dan sekarang masih menempuh jenjang S1 Keperawatan di sebuah univ swasta di Jogjakarta. More About me

BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 259.687 kali


connect with ABATASA